Kampung Gitar Sukoharjo
Desa Ngrombo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo, Desa Ngrombo terletak dekat dengan aliran sungai bengawan solo dan dekat dengan kawasan Solo baru yang merupakan pusat pembelanjaan dan rekreasi warga Sukoharjo dan Solo. Desa Ngrombo merupakan salah satu desa industri di Sukoharjo yang memproduksi gitar sebagai sumber perekonomian. Gitar yang di produksi oleh warga Desa Ngrombo sendiri sudah merambah ke kancah internasional, di tahun 2000 gitar sudah di export ke Malaysia, dan Jerman. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri produksi gitar setiap bulan saat ini rata - rata 2.000.000 unit dan melibatkan 2.500 lebih keluarga. Sayangnya produk gitar di Desa Ngrombo sendiri belum memiliki merk atau banding produk sendiri jadi masih terkesan low quality produk, padahal produk gitar yang di produksi termasuk berkualiats menengah - tinggi.
Merencanakan
sesuatu dalam hal ini perencanaan pariwisata bila dilakukan dengan baik tentu
akan memberikan manfaat dan dapat memperkecil semua efek yang tidak
menguntungkan. Karena itu pentingnya perencanaan dalam pengembangan pariwisata
sebagai suatu industri agar perkembangan industri pariwisata sesuai dengan apa
yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu
ditinjau dari segi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.
Pengembangan
pariwisata yang tidak direncanakan, akan dapat menimbulkan masalah-masalah
sosial dan budaya, terutama di daerah atau tempat di mana terdapat perbedaan
tingkat sosialnya antara pendatang dan penduduk setempat. Sebagai akibat
tingkah laku penduduk yang suka meniru seperti apa yang dilakukan wisatawan
asing tanpa mengetahui latar belakang kebudayaan wisatawan asing yang
ditirunya. Suatu perencanaan dan pertumbuhan pembangunan yang tidak
direncanakan akan mengakibatkan degradasi atau penurunan daya tarik suatu
atraksi wisata, bahkan dapat menjurus kepada kerusakan lingkungan.
Merencanakan
sesuatu bila dilakukan dengan baik tentu akan memberikan manfaat dan dapat pula
memperkecil semua efek yang tidak menguntungkan. Karena itu pentingnya
perencanaan dalam pengembangan pariwisata sebagai suatu industri agar
perkembangan industri pariwisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan
berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi
ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup.
Kita semua
menyadari bahwa pengembangan pariwisata sebagai suatu industri diperlukan biaya
yang besar, seperti; perbaikan jembatan dan jalan menuju obyek wisata,
pengembangan hotel dengan segala fasilitasnya, angkutan wisata (darat, laut,
dan udara) yang harus dibangun, penyediaan air bersih yang harus diciptakan
dengan baik, sarana komunikasi yang teratur yang perlu diadakan, bahkan
pendidikan karyawan yang profesional dalam bidangnya. Semuanya itu memerlukan
biaya yang tidak sedikit dan agar uang tidak dihamburkan sia-sia, maka suatu
perencanaan yang matang mutlak diperlukan.
Pertumbuhan
kepariwisataan yang tidak terkendali sebagai akibat dari perencanaan yang tidak
baik, pasti akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan tentunya akan tidak
menguntungkan semua pihak. Misalnya saja bangunan hotel yang menjulang tinggi,
poster iklan yang merusak pemandangan dan lingkungan, pembuangan sampah yang
tidak pada tempatnya, pengotoran pantai yang tidak terkendali sebagai akibat
banyaknya wisatawan yang berkunjung, semuanya dapat saja terjadi sebagai akibat
dari perencanaan yang tidak baik.
Dengan kata
lain, pengembangan pariwisata yang tidak direncanakan akan menimbulkan
masalah-masalah sosial dan budaya, terutama di daerah atau tempat di mana
terdapat perbedaan tingkat social antara pendatang dan penduduk setempat. Hal
itu terjadi akibat tingkah laku penduduk yang suka meniru seperti apa yang
dilakukan wisatawan asing tanpa mengetahui latar belakang kebudayaan wisatawan
asing yang ditirunya.
Hal yang
serupa ini jika terjadi akan dapat menimbulkan masalah-masalah sosial seperti
hilangnya kepribadian, mundurnya kualitas kesenian tradisional, menurunnya
kualitas barang-barang kerajinan, pencemaran pada candi-candi dan monumen yang
menjadi obyek wisata atau menurunnya moral kaum muda dengan adanya kebebasan
melakukan sesuatu.Oleh karena itu, pengembangan pariwisata sebagai suatu
industry perlu dipertimbangkan dalam segala aspek (tanpa terkecuali) karena
pariwisata sebagai suatu industri tidak dapat berdiri sendiri, pariwisata
berkaitan erat dengan sektor-sektor lainnya, seperti sektor ekonomi, sosial, dan
budaya yang hidup dalam masyarakat. Apabila pengembangan pariwisata tidak
terarah dan tidak direncanakan dengan matang, maka bukan manfaat yang akan
diperoleh, melainkan perbenturan sosial, kebudayaan, kepentingan yang akan
menyebabkan kualitas pelayanan kepada wisatawan pun menjadi rendah dan
selanjutnya akan mematikan usaha-usaha yang telah lama dibina dengan susah
payah.
Hal yang semacam ini tentu tidak diinginkan untuk terjadi, malah sebaliknya kita harus menghindari hal demikian sedini mungkin. Caranya dengan membuat perencanaan yang terpadu dan sejalan dengan perencanaan perekonomian negara secara keseluruhan. Dengan perkataan lain, pengembangan pariwisata harus sejalan dengan pembangunan nasional seperti yang tercantum dalam peraturan perundang - undangan.
Pariwisata masa kini tidak hanya terkait dalam batas-batas wilayah dalam skala tertentu. Pariwisata pada masa kini menjadi sangat khas karena melibatkan paduan budaya dan bentang alam sehingga melibatkan seluruh pihak untuk terkait didalamnya. Diantaranya ada pemerintah, swasta dan masyarakat lokal. Dalam pelaksanaannya ketiga unsur ini saling melengkapi di mana pemerintah sebagai penyelenggara dan pihak swasta sebagai media perantara untuk menyampaikan produk wisata. Sedangkan masyarakat lokal adalah unsur penting yang terlibat dalam kepemerintahan atau pihak swasta pun tidak dapat berdiri sendiri sehingga dalam penyelenggaraan pariwisata pemerintah dan swasta secara bersama-sama dapat mendayagunakan komunitas dan masyarakat lokal untuk menjadi pelaksana kegiatan pariwisata. Berikut ini gambar mengenai kompleksitas pariwisata dan sistem pariwisata.
Lima hal yang harus diperhatikan dalam pariwisata berkelanjutan menurut konsep Muller (1997) yaitu:
- pertumbuhan ekonomi yang sehat,
- kesejahteraan masyarakat lokal,
- tidak merubah struktur alam dan melindungi sumber daya alam,
- kebudayaan masyarakat yang tumbuh secara sehat,
memaksimalkan kepuasan wisatawan dengan memberikan pelayanan yang baik karena wisatawan pada umumnya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan.
Konsekuensi dari adanya perbedaan karakteristik dalam pembangunan atau perkembangan pariwisata menuntut seorang perencana pariwisata untuk selalu mencermati bentuk keterkaitan antara komponen kepariwisataan dengan karakteristik komponen lingkungan untuk menentukan lingkup pekerjaan.
Perencanaan biasanya dapat membantu meminimalkan konflik yang terjadi berkaitan dengan penggunaan tanah atau sumber daya lainnya (Glaria and Cenal, 1990). Diperlukannya sebuah perencanaan dapat juga dikaitkan dengan perkembangan wilayah dan/atau perkembangan kota. Kebutuhan ini terutama dirasakan setelah perkembangan fisik industri atau usaha kepariwisataan, khususnya hotel yang teraglomerasi di lokasi-lokasi tertentu, menyebabkan permasalahan pada skala yang lebih luas.
Dalam perencanaan termasuk perencanaan kepariwisataan perlu dipahami perihal kebutuhan di satu sisi serta pemahaman cara pemenuhan kebutuhan tersebut di sisi lain. Memahami bahwa pariwisata mencakup aspek yang amat luas dan rencana tata ruang wilayah sebagai suatu konsep penataan ruang kegiatan, maka kebutuhan akan rencana pariwisata yang komprehensif dirasakan sebagai suatu keharusan. Rencana pariwisata bukan sekedar menyangkut kebutuhan akan akomodasi, mendandani obyek wisata atau membangun obyek rekaan, melainkan harus menjadi satu kesatuan yang terpadu dengan rencana umum tata ruang wilayah; dan sebaliknya, rencana tata ruang wilayah tidak dapat mengabaikan unsur ‘suka’ yang paling tidak adalah kebutuhan akan rekreasi dan lebih luas adalah kebutuhan akan pariwisata.
Pengaruh dari kurangnya perencanaan dalam sebuah organisasi telah didokumentasikan dalam berbagai literatur, pengaruhnya meliputi hal-hal sebagai berikut: yang pertama pengaruh fisik; kerusakan atau perubahan tetap sekitar fisik, kerusakan atau perubahan tetap dalam sejarah/kebudayaan, kekumuhan dan keterbatasan, polusi, serta masalah-masalah lalu lintas. Yang ke dua pengaruh manusia; kurangnya penerimaan dalam pelayanan dan atraksi-atraksi lokal yang mengecewakan para turis, kidaksukaan para turis pada bagian tempat mereka tinggal, hilangnya identitas budaya, kurangnya pendidikan para pekerja kepariwisataan dalam hal keterampilan dan penerimaan tamu, serta kurang sadar akan keuntungan-keuntungan pariwisata untuk daerah tujuan wisata.
Yang ketiga pengaruh organisasi; lemahnya pendekatan pemasaran dan pengembangan pariwisata, kurangnya kerjasama diantara operator, tidak selarasnya gambaran dari ketertarikan pariwisata, kurangnya dorongan dari pejabat daerah, serta tidak adanya tindakan atas isu-isu penting, masalah-masalah dan kesempatan dari ketertarikan masyarakat pada umumnya. Yang terahir pengaruh lain; tidak selarasnya isyarat-isyarat, kurang cukupnya atraksi-atraksi dan even-even wisata, musim yang tinggi dan pendeknya jangka tinggal, miskinnya atau menekan kualitas dari fasilitas dan pelayanan, serta miskinnya atau tidak selarasnya informasi perjalanan.
#managemenpemasaran
#jasantaperanginangin
#stpsahidsurakarta
Komentar
Posting Komentar