Kampung Gitar Sukoharjo

 Desa Ngrombo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo, Desa Ngrombo terletak dekat dengan aliran sungai bengawan solo dan dekat dengan kawasan Solo baru yang merupakan pusat pembelanjaan dan rekreasi warga Sukoharjo dan Solo. Desa Ngrombo merupakan salah satu desa industri di Sukoharjo yang memproduksi gitar sebagai sumber perekonomian. Gitar yang di produksi oleh warga Desa Ngrombo sendiri sudah merambah ke kancah internasional, di tahun 2000 gitar sudah di export ke Malaysia, dan Jerman. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri produksi gitar setiap bulan saat ini rata - rata 2.000.000 unit dan melibatkan 2.500 lebih keluarga. Sayangnya produk gitar di Desa Ngrombo sendiri belum memiliki merk atau banding produk sendiri jadi masih terkesan low quality produk, padahal produk gitar yang di produksi termasuk berkualiats menengah - tinggi.


KAMPUNG GITAR

Pada saat pandemi Covid- 19 permintaan pembuatan gitar dari Desa Ngrombo meluncur turun, sebelum pandemi dapat memproduksi dan menjual rata -rata 2 juta unit gitar, akan tetapi saat pandemi Covid- 19 dan PPKM di terapkan di berbagai wilayah di Indonesia penjualan gitar menurun drastis sampai beberapa rumah produksi gitar tidak produksi untuk sementara. 

Hal ini membuat warga Desa Ngrombo memutar otak agar roda perekonomian desa tetap berjalan, dan kemudian di dirikanlah "Kampung Gitar" yang di kelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) karena selain kerajinan gitar ada potensi lain yang dapat di kembangkan di Desa Ngrombo seperti budaya dan kuliner. Hal ini tentunya melibatkan masyarakat setempat serta pegiat seni dan budaya. Tidak lupa pula sumber daya alam juga merupakan potensi yang dapat di kembangkan di Desa Ngrombo, mengingat lokasi Desa Ngrombo yang dilewati aliran sungai Bengawan Solo. Beragam potensi tersebut di kolaborasikan dalam paket eduwisata mengelilingi desa. 

Paket wisata "Jelajah Kampung Gitar" sudah di rancang oleh pengelola desa dan pokdarwis Desa Ngrombo, wisatawan dapat melihat langsung proses produksi pembuatan gitar, menonton pertunjukan seni, photo - photo di spot selfie di taman Tanggul Jebol dan menikmati kuliner lokal khas desa yang sudah di sediakan. 


                        Spot Selfie                                                        Aneka Kuliner Lokal

Dalam pengembangannya pengelola kampung gitar kerap mengikuti kapasitas pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) agar dapat terlatih dan mampu bersaing dengan tempat pariwisata lainnya, tidak hanya peningkatan SDM mengikuti pelatihan juga dapat memperkuat branding desa wisata. Saya pernah bertemu Bapak Saryadi kutua pokdarwi Desa Ngrombo, Pak Saryadi dengan giat mengikuti berbagai macam acara dan kegiatan pengelolaan pariwisata, bahkan beliau juga mengikuti acara perhimpunan hotel dan restoran (PHRI) agar dapat membangun dan mengenalkan branding kampung gitar dan juga menjalin kerjasama dan kolaborasi antara tempat pariwisata dan hotel sekitar.

Perencanaan Pariwisata Kampung Gitar

Perencanaan pariwisata memiliki posisi penting dalam dalam pembangunan image dan brand suatu destinasi. pembentukan citra pariwisata sendiri tidaklah mudah. Bila ditelisik dari ilmu komunikasi, tempat dan destinasi memiliki dua makna yang berbeda. Sebagai contoh: ketika seorang wisatawan berkunjung ke kampung gitar, maka yang ia ingat seharusnya melihat bagaimna proses pembuatan gitar dan taman tanggul jebol yang tertata rapi dan nyaman.

Bila dikaji dari segi ilmu managemen perencanaan pariwisata berarti proses penetapan visi dan misi melalui tahapan kesinambungan untuk mencapai target. Wisatawan tersebut membawa memori yang tersimpan di benak wisatawan tersebut. Lain halnya bila wisatawan itu berkunjung ke tempat wisata maka sepulangnya ia hanya akan menganggap aktivitas tersebut sebagai perjalanan biasa.

Ada beberapa poin penting dalam membentuk perencanaan pariwisata, yang pertama adalah harus adanya kegiatan maupun atraksi wisata yang memang benar - benar dapat menarik berkunjung wisatawan, di kampung gitar serdiri sudah di kembangkan dan di bangunnya atraksi - atraksi pariwisata seperti jelajah kampung gitar dan taman tanggul jebol. Beberapa komponen lain sebagai penunjang seperti ikon kampung gitar yang berupa patung gitar dengan jenis berbeda - beda yang terdapat di semua lingkungan rukun tetangga (RT), ada gitar clasik, ukulele dan gitar flaminggo. Hingga ahirnya kampung gitar Desa Ngrombo menyambet juara 1 lomba desa wisata kategore kreatif bertajuk BCA desa wisata award 2021 silam.

Poin yang kedua yaitu tersedianya akomodasi di sertai nila - nilai hospitality, di Desa Ngrombo sendiri sebenarnya sebagian warganya sudah merubah rumah - rumah mereka untuk di jadikan Homestay bagi wisatawan yang berkunjung ke kampung gitar, akan tetapi banyak tamu - tamu wisatawan yang lebih memilih menginap di hotel berbintang. Dikarnakan hal tersebut ketua pokdarwis Ngrombo Kuncoro Bapak Saryadi mencoba untuk bergabung dan melakukan kolabrosi dengan perhimpunan hotel dan restoran (PHRI) Sukoharjo, Bapak Saryadi menyampaikan agar adanya kolaborasi antara hotel - hotel yang beradi di wilayah Sukoharjo untuk lebih aktif merekomendasikan tempat - tempat pariwisata yang beradi di daerah Sukoharjo paparnya dalam forum PHRI Sukoharjo 9 February 2022 silam di Syariah hotel Sukoharjo. Dengan adanya kolaborasi antara hotel dan tempat pariwisata diharapkan wisatawan akan lebih mengenal destinasi wisata di daerah yang belum terekspos.



Koordinasi PHRI Sukoharjo dengan UMKM dan Pariwisata Lokal

Poin yang ketiga yaitu adanya beragam pelayanan dan juga fasilitas lain sebagai penunjang seperti rumah makan, restoran, toko oleh - oleh, toko serba ada, fasilitas kesehatan dan keamanan. Faktor di atas juga penting sebagai penunjang agar wisatawan juga merasa nyaman saat berada di suatu tempat wisata. Kampung gitar sendiri sudah memiliki rumah makan yang di kelola oleh warga sekitar, akan tetapi dapat di kembangkan lagi dan perlunya authenticity  dari daerah tersebut, semisal rumah makan yang menjual makanan khas kota Sukoharjo ada Gempol pleret, Pecel gendar bakmi, Mie pentil dll dan oleh - oleh khas Sukoharjo seperti keripik ceker, keripik belut. Kolaborasi dengan produk hasil daerah lain di daerah Sukoharjo pun bisa jadi masukan untuk pemasaran pariwisata seperti memasukan jamu Nguter sukoharjo untuk di jadikan welcome drink saat wisatawan berkunjung serta penggunaan furniture dari rotan yang di buat dari desa wisata Trangsan Sukoharjo. Bapak Saryadi juga mengungkapkan siap menerima bantuan pembangunan dari stakeholder untuk pembangunan fasilitas penunjang seperti di pembuatan cafe ataupun restoran.

Poin yang keempat adalah aksesbilitas yang memadai seperti adanya trasportasi umum, akses mudah untuk masuk ke kawasan wisata harus juga di design dan di rencanakan agar wisatwan mudah untuk mengakses tempat wisata tersebut. Untuk pertimbangan pengelola kawasan, karena kampung gitar di lewati aliran sungai Bengawan Solo pemerintah, stakeholder,  dan pengelola pariwisata dapat membuat jalur trasportasi air seperti kapal, karena dapat lebih menarik wisatawan untuk berkunjung. Transportasi di Sukoharjo sendiri sudah terbantu dengan diijinkan Batik Solo Trans untuk melewati sebagian wilayah di Solo Baru. Pemerintah Sukoharjo sendiri seharusnya mulai membuat transportasi umum yang nyaman dan murah bagi warga Sukoharjo itu sendiri. 

Dan poin yang terahir adalah adanya infrastruktur yang lengkap dan memadahi, dalam perencanaan pariwisata harus adanya infrastruktur yang memadahi agar tamu atau wisatawan nyaman saat berada di kampung gitar, seperti adanya toilet umum, tempat sembahyang agar wisatawan lebih nyaman. 

Kenapa perencanaan pariwisata itu penting.

Perencanaan pariwisata perlu dilakukan karena adanya banyak perubahan dalam industri pariwisata saat ini. Pariwisata mencakup banyak hal yang melibatkan banyak pihak, maka dibutuhkan strategi tertentu dalam perencanaan kegiatan pariwisata sehingga dapat berlangsung dengan baik.

Merencanakan sesuatu dalam hal ini perencanaan pariwisata bila dilakukan dengan baik tentu akan memberikan manfaat dan dapat memperkecil semua efek yang tidak menguntungkan. Karena itu pentingnya perencanaan dalam pengembangan pariwisata sebagai suatu industri agar perkembangan industri pariwisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan.

Pengembangan pariwisata yang tidak direncanakan, akan dapat menimbulkan masalah-masalah sosial dan budaya, terutama di daerah atau tempat di mana terdapat perbedaan tingkat sosialnya antara pendatang dan penduduk setempat. Sebagai akibat tingkah laku penduduk yang suka meniru seperti apa yang dilakukan wisatawan asing tanpa mengetahui latar belakang kebudayaan wisatawan asing yang ditirunya. Suatu perencanaan dan pertumbuhan pembangunan yang tidak direncanakan akan mengakibatkan degradasi atau penurunan daya tarik suatu atraksi wisata, bahkan dapat menjurus kepada kerusakan lingkungan.  

Merencanakan sesuatu bila dilakukan dengan baik tentu akan memberikan manfaat dan dapat pula memperkecil semua efek yang tidak menguntungkan. Karena itu pentingnya perencanaan dalam pengembangan pariwisata sebagai suatu industri agar perkembangan industri pariwisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup.

Kita semua menyadari bahwa pengembangan pariwisata sebagai suatu industri diperlukan biaya yang besar, seperti; perbaikan jembatan dan jalan menuju obyek wisata, pengembangan hotel dengan segala fasilitasnya, angkutan wisata (darat, laut, dan udara) yang harus dibangun, penyediaan air bersih yang harus diciptakan dengan baik, sarana komunikasi yang teratur yang perlu diadakan, bahkan pendidikan karyawan yang profesional dalam bidangnya. Semuanya itu memerlukan biaya yang tidak sedikit dan agar uang tidak dihamburkan sia-sia, maka suatu perencanaan yang matang mutlak diperlukan.

Pertumbuhan kepariwisataan yang tidak terkendali sebagai akibat dari perencanaan yang tidak baik, pasti akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan tentunya akan tidak menguntungkan semua pihak. Misalnya saja bangunan hotel yang menjulang tinggi, poster iklan yang merusak pemandangan dan lingkungan, pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, pengotoran pantai yang tidak terkendali sebagai akibat banyaknya wisatawan yang berkunjung, semuanya dapat saja terjadi sebagai akibat dari perencanaan yang tidak baik.

Dengan kata lain, pengembangan pariwisata yang tidak direncanakan akan menimbulkan masalah-masalah sosial dan budaya, terutama di daerah atau tempat di mana terdapat perbedaan tingkat social antara pendatang dan penduduk setempat. Hal itu terjadi akibat tingkah laku penduduk yang suka meniru seperti apa yang dilakukan wisatawan asing tanpa mengetahui latar belakang kebudayaan wisatawan asing yang ditirunya.

Hal yang serupa ini jika terjadi akan dapat menimbulkan masalah-masalah sosial seperti hilangnya kepribadian, mundurnya kualitas kesenian tradisional, menurunnya kualitas barang-barang kerajinan, pencemaran pada candi-candi dan monumen yang menjadi obyek wisata atau menurunnya moral kaum muda dengan adanya kebebasan melakukan sesuatu.Oleh karena itu, pengembangan pariwisata sebagai suatu industry perlu dipertimbangkan dalam segala aspek (tanpa terkecuali) karena pariwisata sebagai suatu industri tidak dapat berdiri sendiri, pariwisata berkaitan erat dengan sektor-sektor lainnya, seperti sektor ekonomi, sosial, dan budaya yang hidup dalam masyarakat. Apabila pengembangan pariwisata tidak terarah dan tidak direncanakan dengan matang, maka bukan manfaat yang akan diperoleh, melainkan perbenturan sosial, kebudayaan, kepentingan yang akan menyebabkan kualitas pelayanan kepada wisatawan pun menjadi rendah dan selanjutnya akan mematikan usaha-usaha yang telah lama dibina dengan susah payah.

Hal yang semacam ini tentu tidak diinginkan untuk terjadi, malah sebaliknya kita harus menghindari hal demikian sedini mungkin. Caranya dengan membuat perencanaan yang terpadu dan sejalan dengan perencanaan perekonomian negara secara keseluruhan. Dengan perkataan lain, pengembangan pariwisata harus sejalan dengan pembangunan nasional seperti yang tercantum dalam peraturan perundang - undangan.

Pariwisata masa kini tidak hanya terkait dalam batas-batas wilayah dalam skala tertentu. Pariwisata pada masa kini menjadi sangat khas karena melibatkan paduan budaya dan bentang alam sehingga melibatkan seluruh pihak untuk terkait didalamnya. Diantaranya ada pemerintah, swasta dan masyarakat lokal. Dalam pelaksanaannya ketiga unsur ini saling  melengkapi di mana pemerintah sebagai penyelenggara dan pihak swasta sebagai media perantara untuk menyampaikan produk wisata. Sedangkan masyarakat lokal adalah unsur penting yang terlibat dalam kepemerintahan atau pihak swasta pun tidak dapat berdiri sendiri sehingga dalam penyelenggaraan pariwisata pemerintah dan swasta secara bersama-sama dapat mendayagunakan komunitas dan masyarakat lokal untuk menjadi pelaksana kegiatan pariwisata. Berikut ini gambar mengenai kompleksitas pariwisata dan sistem pariwisata.

Lima hal yang harus diperhatikan dalam pariwisata berkelanjutan menurut konsep Muller (1997) yaitu:

  1. pertumbuhan ekonomi yang sehat,
  2. kesejahteraan masyarakat lokal,
  3. tidak merubah struktur alam dan melindungi sumber daya alam,
  4. kebudayaan masyarakat yang tumbuh secara sehat,

memaksimalkan kepuasan wisatawan dengan memberikan pelayanan yang baik karena wisatawan pada umumnya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan.

Konsekuensi dari adanya perbedaan karakteristik dalam pembangunan atau perkembangan pariwisata menuntut seorang perencana pariwisata untuk selalu mencermati bentuk keterkaitan antara komponen kepariwisataan dengan karakteristik komponen lingkungan untuk menentukan lingkup pekerjaan.

Perencanaan biasanya dapat membantu meminimalkan konflik yang terjadi berkaitan dengan penggunaan tanah atau sumber daya lainnya (Glaria and Cenal, 1990). Diperlukannya sebuah perencanaan dapat juga dikaitkan dengan perkembangan wilayah dan/atau perkembangan kota. Kebutuhan ini terutama dirasakan setelah perkembangan fisik industri atau usaha kepariwisataan, khususnya hotel yang teraglomerasi di lokasi-lokasi tertentu, menyebabkan permasalahan pada skala yang lebih luas.

Dalam perencanaan termasuk perencanaan kepariwisataan perlu dipahami perihal kebutuhan di satu sisi serta pemahaman cara pemenuhan kebutuhan tersebut di sisi lain. Memahami bahwa pariwisata mencakup aspek yang amat luas dan rencana tata ruang wilayah sebagai suatu konsep penataan ruang kegiatan, maka kebutuhan akan rencana pariwisata yang komprehensif dirasakan sebagai suatu keharusan. Rencana pariwisata bukan sekedar menyangkut kebutuhan akan akomodasi, mendandani obyek wisata atau membangun obyek rekaan, melainkan harus menjadi satu kesatuan yang terpadu dengan rencana umum tata ruang wilayah; dan sebaliknya, rencana tata ruang wilayah tidak dapat mengabaikan unsur ‘suka’ yang paling tidak adalah kebutuhan akan rekreasi dan lebih luas adalah kebutuhan akan pariwisata.

Pengaruh dari kurangnya perencanaan dalam sebuah organisasi telah didokumentasikan dalam berbagai literatur, pengaruhnya meliputi hal-hal sebagai berikut: yang pertama pengaruh fisik; kerusakan atau perubahan tetap sekitar fisik, kerusakan atau perubahan tetap dalam sejarah/kebudayaan, kekumuhan dan keterbatasan, polusi, serta masalah-masalah lalu lintas. Yang ke dua pengaruh manusia; kurangnya penerimaan dalam pelayanan dan atraksi-atraksi lokal yang mengecewakan para turis, kidaksukaan para turis pada bagian tempat mereka tinggal, hilangnya identitas budaya, kurangnya pendidikan para pekerja kepariwisataan dalam hal keterampilan dan penerimaan tamu, serta kurang sadar akan keuntungan-keuntungan pariwisata untuk daerah tujuan wisata. 

Yang ketiga pengaruh organisasi; lemahnya pendekatan pemasaran dan pengembangan pariwisata, kurangnya kerjasama diantara operator, tidak selarasnya gambaran dari ketertarikan pariwisata, kurangnya dorongan dari pejabat daerah, serta tidak adanya tindakan atas isu-isu penting, masalah-masalah dan kesempatan dari ketertarikan masyarakat pada umumnya. Yang terahir pengaruh lain; tidak selarasnya isyarat-isyarat, kurang cukupnya atraksi-atraksi dan even-even wisata, musim yang tinggi dan pendeknya jangka tinggal, miskinnya atau menekan kualitas dari fasilitas dan pelayanan, serta miskinnya atau tidak selarasnya informasi perjalanan.


#managemenpemasaran

#jasantaperanginangin

#stpsahidsurakarta

 

Komentar